Lelaki Air

Aku bercengkerama bersama teman-temanku dalam sebuah pesta di tepi sungai. Pesta perayaan kedewasaan. Sebuah pesta penanda bagi kami untuk tinggal terpisah dari orangtua kami. Sebuah pesta penanda bagi kami untuk mulai tinggal di rumah baru, di atas sebuah batu. Batu hitam. Dunia baru bagi kami, lumut-lumut muda.

Ya, Lumut adalah namaku. Rumahku di atas batu di tepi sungai, yang airnya mengalir jernih dari sumber air di atas gunung hijau dari atas sana. Ah, air jernih itu selalu menyapaku. Senyum ramah. Senyum yang mampu membuat hatiku membuncah. Senyum yang mampu menyuburkan tubuh dan jiwaku. Senyum yang selalu menyegarkan penatku.

Aih, ternyata aku jatuh cinta padamu. Pada Air, yang mampu menghapus segala sedih di masa lalu. Ketika aku harus berjuang menghancurkan batu-batu keras di bawah kakiku tanpa tetes-tetes air dari tubuhmu. Kini, ketika aku telah dewasa dan tinggal di atas rumahku sendiri, kau makin sering mengunjungiku. Mengalir di dalam rumahku. Mengalir di atas tubuhku. Hingga pada suatu pagi yang dingin dan berkabut, ketika kau berkunjung ke rumahku, kau tanyakan sesuatu padaku.

“Maukah kau menikah denganku? Bersama kita menaklukkan dunia di bawah kaki kita,” tanyamu lugas. Sembari memandang mataku. Pun menggenggam jemari tanganku.

Aku mengangguk. Mataku berbinar. Ya, akhirnya aku menikah denganmu, Air. Pengantin Abadiku. Sebab hanya bersamamu, aku mampu menaklukkan dunia di bawah kakiku. Sebab hanya bersamamu, aku mampu menerbangkan spora-spora cinta dari tubuhku.

 

(22 Oktober 2010)

 

Dipublikasi di Cerpen | Meninggalkan komentar

rumah

rumah bukanlah rumah, bila ia tak mampu memberi makanan jiwa bagi setiap penghuninya. rumah yang demikian bukanlah sebuah rumah, melainkan hanya sebuah tempat singgah.

(6 September 2011)

Dipublikasi di pengantar cerpen | Meninggalkan komentar

Merindukan Ayah yang Tidak Pernah Kupunya

Aku tidak pernah meminta dilahirkan sebagai anak dari kedua orangtuaku. Entah mengapa Tuhan mengirimku ke dunia untuk menjadi anak mereka. Pertanyaan yang tidak pernah bisa kutemukan jawabannya hingga hari ini tiba. Hari di mana aku semakin tua, tetapi tidak pernah dianggap sebagai manusia oleh sepasang manusia, yang orang-orang itu sebut sebagai orangtuaku.

Sejak aku kecil, Ayah selalu memintaku jadi yang terbaik. Harus juara kelas dan tidak boleh hanya jadi jago kandang. Harus patuh pada setiap perintah dan tidak boleh membantah. Tidak jarang sabetan rotan mampir pada betisku bila aku melanggar. Tidak jarang pula tamparan tangannya mampir di wajahku dan aku hanya bisa menahan nyeri. Pernah pula beberapa gigi harus rontok setelah tamparan itu mampir.

Dari sekian banyak yang pernah Ayah lakukan padaku, aku masih menyimpannya dengan rapi dalam benakku. Tidak ada yang terlupa, meski orang-orang di luar sana sering menasihatiku untuk melupakan semua yang telah dilakukan Ayah padaku. Tidak menyimpan dendam pada Ayahku. Apakah yang kusimpan dalam benak ini adalah dendam? Entah apa namanya. Sebab aku lebih membenci diriku sendiri dibanding membenci Ayahku. Benarkah demikian? Aku tidak pernah bisa menemukan jawabannya.

Sejak aku kecil, aku selalu berusaha menjadi apa yang ingin Ayah harapkan dariku. Jadi juara kelas, aku berusaha. Belajar bersama teman sepulang sekolah adalah salah satu caraku untuk itu. Hingga suatu siang, Tanteku –adik dari Ayah– tidak menemukanku di sekolah. Ya, sebab Beliau yang diberi mandat oleh Ayah untuk mengantar dan menjemputku sekolah. Waktu itu aku masih duduk di kelas 4 SD dan aku harus pergi ke rumah seorang teman karena guru menugaskan kami untuk mengerjakan tugas sekolah, yang harus segera dikumpulkan besok pagi. Tidak ada waktu untuk menunggu Tanteku datang menjemput ke sekolah sebab aku akan ditinggal teman-temanku dan tidak akan mendapat nilai besok pagi. Dan, karena itu pula aku harus menerima sabetan rotan di betis kiriku dari Ayah sore harinya. Sebab       Tanteku melaporkan pada Ayah bahwa aku keluyuran sepulang sekolah dan tidak langsung pulang ke rumah.

Sabetan Ayah tidak lebih menyakitkan daripada makian Ayah waktu itu. Makian yang menyebutku sebagai anak pembohong dan anak nakal karena tidak pulang tepat waktu. Ya, sabetan rotan di betis kiriku tidak begitu menyakitkan dibanding perasaan seorang anak kecil yang masih duduk di kelas 4 SD, yang dimaki ayah sendiri. Bekas sabetan rotan itu meninggalkan bilur yang baru hilang setelah tiga tahun kemudian, sedang makian Ayah tidak pernah bisa menghilang hingga sekarang.

Ayah tidak pernah memberiku kesempatan untuk menjelaskan apapun. Sebab Ayah selalu menganggapku mencari-cari alasan. Sebab Ayah lebih percaya pada Tanteku dibanding percaya padaku, darah dagingnya sendiri.

*****

Kejadian demi kejadian telah aku lewati hingga hari ini. Ketika usiaku tidak lagi ada dalam hitungan anak-anak dan Ayah masih sering memakiku seenak hatinya. Ketika aku membantah makiannya, Ibu sering kali malah memihak pada Ayah. Pada akhirnya, aku yang harus diam dan mengalah. Aku yang harus lebih banyak memendam perasaanku sendiri. Memendam semua kemarahanku sendiri. Sebab aku tidak tahu mengapa Ayah masih sering memakiku, meski aku sudah menuruti semua kemauannya, memberi kebanggaan padanya.

Ya, kebanggaan pada Ayah. Aku sudah menjadi juara kelas di sekolah. Aku tidak pernah jadi jago kandang seperti yang sering dilontarkannya padaku dulu. Aku lulus kuliah dengan predikat cumlaude. Aku sudah punya pekerjaan yang membanggakan menurut semua orang. Sayangnya, itu semua tidak pernah bisa membuat Ayahku bangga. Selalu saja ada yang salah di matanya.

Malam ini adalah malam ke sekian aku harus menerima makian Ayah dan aku harus menelannya. Sebab ketika aku membuka mulut untuk membalas makian Ayah, aku malah membuat Ibuku berceramah panjang lebar tentang aku sebagai anak durhaka. Pendosa yang melawan orang tua. Aku diam di kamarku, meski airmata turun satu-satu dalam diam.

Malam ini, aku harus menelan makian bahwa aku ini tukang fitnah yang mengganggu ketenteraman rumah. Entah dari mana Ayah mendapat bisikan. Entah apa yang dibisikkan pada telinga Ayah. Entah. Sebab ketika aku pulang kerja sore tadi, Ayah sudah menunjukkan sikap permusuhan dengan menjawab ketus pertanyaanku. Aku tidak memalas keketusan Ayah karena aku ingat nasihat Ibu untuk selalu mengalah pada Ayah. Biarlah, kalau malam ini, aku harus menerima makian bahwa aku ini anak pembuat onar di rumah. Mungkin memang begitu cara Ayah menyayangiku, dengan memaki dan membuatku menangis diam-diam di dalam kamar.

Terima kasih, Ayah. Karena telah menyebutku sebagai tukang fitnah. Karena telah menyebutku pembuat onar di rumah. Terima kasih, Ibu. Karena telah menyebutku sebagai pendosa pada orangtua. Terima kasih. Aku menjadi seperti sekarang ini karena kalian yang membuatku lahir ke dunia. Aku menjadi seperti sekarang ini karena kalian yang mendidik dan membesarkanku hingga hari ini. Mungkin terima kasih saja tidak akan pernah cukup untuk kalian berdua. Mungkin usahaku selama ini untuk membanggakan kalian tidak akan pernah cukup untuk kalian berdua.

Terima kasih. Hanya itu yang terlontar dari mulutku, sedang airmata masih saja menetes satu-satu dari kedua mataku.

Tuhan, bila aku memang tidak pernah bisa membanggakan kedua orang tuaku, lantas untuk apa Kau kirim aku menjadi anak mereka? Sesungguhnya aku telah berusaha amat keras.

Tuhan, Kau Maha Mendengar, bukan? Malam ini, aku berdoa pada-Mu. Biarkan aku kembali pada-Mu. Sebab kedua orangtuaku sudah tidak menginginkanku sebagai anak mereka. Sebab aku hanya menjadi pembuat onar dalam kehidupan pernikahan mereka.

Tuhan, Kau Maha Melihat, bukan? Malam ini, aku berdoa pada-Mu. Biarkan aku kembali pada-Mu. Sebab kedua orangtuaku lebih suka memukul dan menampar ragaku dengan kedua tangan mereka. Sebab kedua orangtuaku lebih suka mengiris jiwaku dengan dengan lidah mereka.

Tuhan, Kau Maha Pemberi, bukan? Malam ini, aku berdoa pada-Mu. Berikan aku seorang Ayah di surga sana. Seorang Ayah yang tidak pernah memaki apalagi mencela. Seorang Ayah yang tidak pernah memukul atau menampar. Seorang Ayah yang selalu mengatakan bahwa ia bangga pada setiap prestasiku. Seorang Ayah yang selalu tersenyum dan menuntun pada setiap kesalahanku. Berikan aku seorang Ibu, yang tidak pernah mengutukku sebagai pendosa. Berikan aku seorang Ayah seperti itu, Tuhan. Berikan aku seorang Ibu seperti itu, Tuhan.

Tuhan, biarkan aku kembali pada-Mu. Sebab dalam airmataku yang jatuh satu-satu pada setiap malamku, aku tidak pernah lupa berdoa pada-Mu. Aku tidak pernah lupa bersyukur pada-Mu atas nikmat yang telah Kau berikan padaku hari ini.

Tuhan, biarkan aku kembali menjadi penghuni surga-Mu. Kembali seperti sebelum Kau kirim aku menjadi anak kedua orangtuaku. Atau sekarang aku sudah tidak pantas lagi kembali ke surga-Mu? Sebab Ibuku telah menyebutku sebagai pendosa. Sebab Ibuku telah menyebutku sebagai anak durhaka, meski itu semua bukan keinginanku.

Tuhan, biarkan aku kembali pada-Mu dan jangan pernah mengirimku kembali ke dunia. Jangan biarkan aku menjadi anak siapapun lagi.

Tuhan, biarkan aku kembali.

– Februari 2011 –

*****

Dipublikasi di Cerpen | Meninggalkan komentar